LEUKIMIA LIMFOBLASTIK AKUT PDF

Benjolan akibat pembengkakan kelenjar getah bening Sakit perut akibat pembengkakan hati atau limpa Penurunan berat badan Ruam kulit berwarna ungu Sakit kepala, kejang, penglihatan kabur, dan pusing apabila sel kanker menyerang otak Gejala leukemia limfoblastik akut bisa muncul bertahap bergantung pada tahapan penyakitnya. Pada awalnyanya gejala yang muncul mungkin sangat ringan hingga tidak disadari. Kapan Harus ke Dokter? Segera berkonsultasi dengan dokter apabila Anda atau anak Anda mengalami gejala yang berlangsung lama atau berulang. Banyak kasus penyakit ini yang menyebabkan gejala seperti flu.

Author:Bragrel Kazrami
Country:Norway
Language:English (Spanish)
Genre:Sex
Published (Last):19 September 2008
Pages:150
PDF File Size:11.41 Mb
ePub File Size:13.79 Mb
ISBN:759-5-82065-875-2
Downloads:22292
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Kajisho



Leukemia Limfoblastik Akut LLA adalah suatu keganasan pada sel-sel prekursor limfoid, yaitu sel darah yang nantinya akan berdiferensiasi menjadi limfosit T dan limfosit B pada gambar di bawah ditunjukkan pada cabang sebelah kanan.

Hal ini memberi dugaan bahwa populasi sel leukimia itu berasal sari sel tunggal. Oleh karena homogenitas itu menurut Purnomo, dibuat klasifikasi LLA secara morfologik sebagai berikut: L — 1 terdiri dari sel limfoblas kecil serupa, dengan kromatin homogen, anak inti umumnya tidak nampak dan sitoplasma sempit.

L — 2 pada jenis ini limfoblas adalah besar tetapi ukurannya bervariasi, kromatin lebih kasar dengan satu atau lebih anak inti. L — 3 terdiri dari sel limfoblas besar, homogen dengan kromatin berbercak, banyak ditemukan anak inti serta sitoplasma yang basofilik dan berfakualisasi Etiologi Meskipun LLA sering dihubungkan dengan syndroma gangguan genetik, penyebab utama LLA sampai saat ini masih belum diketahui.

Faktor lingkungan yang memperberat resiko terjadinya LLA adalah pemaparan terhadap radiasi ion dan elektromagnetik. Selain itu beberapa jenis virus juga berkaitan dengan insiden LLA, terutama infeksi virus yang terjadi pada masa prenatal seperti virus influenza dan varicella. LLA juga dapat terjadi pada anak dengan gangguan imnunodefisiensi kongenital seperti Wiscott-Aldrich Syndrome, Congenital Hypogammaglobulinemia dan Ataxia-Telangiectasia.

Penyakit defisiensi imun tertentu, misalnya agannaglobulinemia; kelainan kromosom, misalnya sindrom Down risikonya 20 kali lipat populasi umumnya ; sindrom Bloom. Virus Virus sebagai penyebab sampai sekarang masih terus diteliti. Sel leukemia mempunyai enzim trankriptase suatu enzim yang diperkirakan berasal dari virus.

Limfoma Burkitt, yang diduga disebabkan oleh virus EB, dapat berakhir dengan leukemia. Radiasi ionisasi Terdapat bukti yang mendukung dugaan bahwa radiasi pada ibu selama kehamilan dapat meningkatkan risiko pada janinnya.

Baik dilingkungan kerja, maupun pengobatan kanker sebelumnya. Herediter Faktor herediter lebih sering pada saudara sekandung terutama pada kembar monozigot. Obat-obatan Obat-obat imunosupresif, obat karsinogenik seperti diethylstilbestrol Faktor Lain 1. Faktor eksogen seperti sinar X, sinar radioaktif, dan bahan kimia benzol, arsen, preparat sulfat , infeksi virus dan bakteri. Faktor endogen seperti ras 3. Faktor genetik seperti kelainan kromosom Patofisiologi Pada LLA, progenitor limfoid mengalami disregulasi proliferasi dan ekspansi klonal.

Struktur antigen manusia terbentuk oleh struktur antigen dari berbagai alat tubuh, terutama kulit dan selaput lendir yang terletak di permukaan tubuh. Sistem HL-A individu ini diturunkan menurut hukum genetika sehingga adanya peranan faktor ras dan keluarga dalam etiologi leukimia tidak dapat diabaikan Ngastiyah, Pada pasien LLA terjadi proliferasi patologis sel-sel limfoid muda di sumsum tulang. Ia akan mendesak sistem hemopoietik normal lainnya, seperti eritropoietik, trombopoietik dan granulopoietik, sehingga sumsum tulang didominasi sel blast dan sel-sel leukemia hingga mereka menyebar berinfiltrasi sampai ke darah tepi dan organ tubuh lainnya.

Jika terjadi translokasi semacam ini maka ia akan mengaktifkan jalur proliferasi dan pertumbuhan sel secara abnormal sehingga terjadi leukemia. Kelainan yang lain bisa pada karyotipe hipdiploid dan t 10;14 , atau karena hilangnya atau inaktivnya gen supresor tumor seperti p16 dan p15, Rb dan p Manifestasi Klinis Gejala tersering yang dapat terjadi adalah rasa lelah, panas tanpa infeksi, purpura, nyeri tulang dan sendi, macam-macam infeksi, penurunan berat badan, dan sering ditemukan suatu massa abnormal.

Gejala klinik leukemia akut sangat bervariasi, tetapi pada umumnya timbul cepat, dalam beberapa hari sampai minggu. Gejala leukemia akut dapat digolongkan menjadi tiga yaitu; 1. Gejala kegagalan sumsum tulang: a. Anemia menimbulkan gejala pucat dan lemah. Disebabkan karena produksi sel darah merah kurang akibat dari kegagalan sumsum tulang memproduksi sel darah merah.

Ditandai dengan berkurangnya konsentrasi hemoglobin, turunnya hematokrit, jumlah sel darah merah kurang. Anak yang menderita leukemia mengalami pucat, mudah lelah, kadang-kadang sesak nafas. Neutropenia menimbulkan infeksi yang ditandai demam, malaise, infeksi rongga mulut, tenggorokan, kulit, saluran napas, dan sepsis sampai syok septic.

Trombositopenia menimbulkan easy bruising, memar, purpura perdarahan kulit, perdarahan mukosa, seperti perdarahan gusi dan epistaksis. Tanda-tanda perdarahan dapat dilihat dan dikaji dari adanya perdarahan mukosa seperti gusi, hidung epistaxis atau perdarahan bawah kulit yang sering disebut petekia. Perdarahan ini dapat terjadi secara spontan atau karena trauma. Apabila kadar trombosit sangat rendah, perdarahan dapat terjadi secara spontan. Keadaan hiperkatabolik yang ditandai oleh: a.

Kaheksia c. Hiperurikemia yang dapat menimbulkan gout dan gagal ginjal 3. Infiltrasi ke dalam organ menimbulkan organomegali dan gejala lain seperti: a. Nyeri tulang dan nyeri sternum b. Limfadenopati superficial c. Splenomegali atau hepatomegali biasanya ringan d. Hipertrofi gusi dan infiltrasi kulit e. Sindrom meningeal: sakit kepala, mual muntah, mata kabur, kaku kuduk. Ulserasi rectum, kelainan kulit. Manifestasi ilfiltrasi organ lain yang kadang-kadang terjadi termasuk pembengkakan testis pada ALL atau tanda penekanan mediastinum khusus pada Thy-ALL atau pada penyakit limfoma T-limfoblastik yang mempunyai hubungan dekat 4.

Gejala lain yang dijumpai adalah: a. Leukositosis terjadi jika leukosit melebihi Leukostasis pulmoner ditandai oleh sesak napas, takhipnea, ronchi, dan adanya infiltrasi pada foto rontgen. Koagulapati dapat berupa DIC atau fibrinolisis primer. DIC lebih sering dijumpai pada leukemia promielositik akut M3. DIC timbul pada saat pemberian kemoterapi yaitu pada fase regimen induksi remisi. Hiperuricemia yang dapat bermanifestasi sebagai arthritis gout dan batu ginjal.

Sindrom lisis tumor dapat dijumpai sebelum terapi, terutama pada ALL. Tetapi sindrom lisis tumor lebih sering dijumpai akibat kemoterapi. Bakta,I Made, Komplikasi 1. Infeksi Komplikasi ini yang sering ditemukan dalam terapi kanker masa anak-anak adalah infeksi berat sebagai akibat sekunder karena neutropenia. Anak paling rentan terhadap infeksi berat selama tiga fase penyakit berikut: a.

Selama terapi imunosupresi c. Sesudah pelaksanaan terapi antibiotic yang lama sehingga mempredisposisi pertumbuhan mikroorganisme yang resisten.

Walau demikian , penggunaan faktor yang menstimulasi-koloni granulosit telah mengurangi insidensi dan durasi infeksi pada anak-anak yang mendapat terapi kanker.

Pertahanan pertama melawan infeksi adalah pencegahan. Wong, 2. Perdarahan Sebelum penggunaan terapi transfuse trombosit, perdarahan merupakan penyebab kematian yang utama pada pasien leukemia. Kini sebagaian besar episode perdarahan dapat dicegah atau dikendalikan dengan pemberian konsentrat trombosit atau plasma kaya trombosit.

Karena infeksi meningkat kecenderungan perdarahan dan karena lokasi perdarahan lebih mudah terinfeksi, maka tindakan pungsi kulit sedapat mungkin harus dihindari. Jika harus dilakukan penusukan jari tangan, pungsi vena dan penyuntikan IM dan aspirasi sumsum tulang, prosedur pelaksanaannya harus menggunakan teknik aseptic, dan lakukan pemantauan kontinu untuk mendeteksi perdarahan.

Perawatan mulut yang seksama merupakan tindakan esensial, karena sering terjadi perdarahan gusi yang menyebabkan mukositis. Wong, Diagnosis Untuk menegakkan diagnosis LLA, tetap dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan lab yang meliputi: Hitung darah lengkap, sediaan apus darah tepi, kadar fibrinogen, kimia darah, golongan darah dan HLA human leukocyte antigen.

Bisa juga dilakukan pemeriksaan foto toraks, punksi lumbal dan aspirasi serta biopsi sumsum tulang untuk diagnosis pastinya. Pada Anamnesis ditemukan anemia, kelemahan tubuh, berat badan menurun, anoreksia mudah sakit, sering demam, perdarahan, nyeri tulang, nyeri sendi Ngastiyah, Untuk hitung darah lengkap dan apusan darah tepi, biasanya ditemukan kadar leukosit meningkat drastis, tetapi bisa juga normal dan bahkan menurun.

Penampakan limfoblast pada apusan darah tepi Untuk aspirasi dan biopsi sumsum tulang, ditemukan gambaran hiperseluler dengan peningkatan limfoblas. Hasil pemeriksaan sitokimia akan negatif pada pewarnaan Sudan Black dan Mieloperoksidase senyawa yang digunakan untuk mewarnai granul, agar dapat dibedakan antara sel limfoblas dan mieloblas yang strukturnya hampir mirip, akan tetapi sel limfoblas tidak bergranul sehingga hasilnya negatif.

Untuk membedakan apakah keganasannya terdapat pada sel B atau sel T, bisa dilakukan pemeriksaan dengan senyawa fosfatase asam positif pada sel T ganas , atau Periodic Acid Schiff PAS Positif pada sel B ganas. Selain itu bisa juga dilakukan pemeriksaan imunofenotip dan sitogenetik untuk membedakan apakah keganasannya terjadi di sel T atau sel B. Selain itu dapat dilakukan pemeriksaan biopsi sumsum tulang.

Tidak ditemui megakariosit. Pemeriksaan Laboratorium a. Hitung darah lengkap Complete Blood Count dan Apus Darah Tepi Jumlah leukosit dapat normal, meningkat, atau rendah pada saat diagnosis. Jumlah leukosit biasanya berbanding langsung dengan jumlah blas. Dari pemeriksaan sumsum tulang akan ditemukan gambaran monoton, yaitu hanya terdiri dari sel limfopoetik patologis sedangkan sistem lain terdesak aplasia sekunder. Mieloperoksidase adalah enzim sitoplasmik yang ditemukan pada granula primer dari precursor granulositik yang dapat dideteksi pada sel blast AML.

Sitogenetik Analisis sitogenetik sangat berguna karena beberapa kelainan sitogenetik berhubungan dengan subtype ALL tertentu, dan dapat memberikan informasi prognostik. Translokasi t 8;14 , t 2;8 , dan t 8;22 hanya ditemukan pada ALL sel B, dan kelainan kromosom ini menyebabkan disregulasi dan ekspresi yang berlebihan dari gen c-myc pada kromosom 8. Penatalaksanaan Untuk penatalaksanaannya, terlebih dahulu perlu diperhatikan beberapa kondisi sebagai berikut: kondisi metabolik, perlu diperhatikan juga pada pasien LLA ini apabila terjadi hiperurisemia, hiperfosfatemia atau hipokalsemia sekunder yang sebelumnya harus diterapi dulu dengan hidrasi intravena, alkalinisasi urin atau pemberian alupurionol untuk mencegah akumulasi asam urat.

Perlu diberi pencegahan terhadap agen infeksi berbahaya seperti virus herpes, pneumoni, dsb. Terapi utama untuk LLA ada 4: Terapi induksi remisi. Bisa digunakan obat seperti prednison, vinkristin, daunorubisin dan lain-lain.

Terapi konsolidasi atau intensifikasi. Gunanya untuk benar-benar melibas habis sel-sel leukemia yang tersisa setelah pemberian terapi induksi, agar tidak terjadi relaps. Profilaksis sistem saraf pusat, untuk mencegah relaps. Bisa dengan preparat 6-merkaptopurin tiap hari dan metotreksat setiap minggu selama tahun.

Keempat terapi utama di atas menggunakan obat-obat yang bisa disesuaikan dengan protokol yang digunakan. Terapi lain yang bisa diberikan adalah terapi suportif, seperti anti infeksi, pemberian nutrisi yang cukup, dukungan psikologi, dan pemantauan kondisi komponen darah secara rutin.

CATALOGO TECNOLITE ILUMINACION 2010 PDF

Leukemia Limfositik Kronis

Leukemia mieloid akut Seberapa sering leukemia limfositik kronis terjadi? Leukemia limfositik kronis adalah tipe leukemia yang paling umum pada negara-negara barat. Umumnya terjadi pada lansia di atas usia 60 tahun, dua kali lipat lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan dengan pria. Gejala umum leukemia limfositik kronis adalah badan merasa sakit nyeri dan sangat lelah. Kelenjar getah bening yang membengkak atau infeksi yang muncul kembali karena sistem imun yang melemah dapat menjadi gejala pertama. Orang-orang juga mungkin akan mengalami mimisan, mudah lebam, atau masalah pendarahan yang lain, dan lemas karena anemia kurangnya sel darah merah atau eritrosit atau thrombocytopenia kurangnya platelet atau trombosit.

K8M800 M2 MANUAL PDF

Leukemia Limfoblastik Akut: Penyebab, Gejala, Pengobatan

Rasa sakit di tulang atau perut Rasa sakit atau sesak di bawah tulang rusuk Muncul benjolan di leher , bawah lengan, perut, atau pangkal paha Infeksi di beberapa titik di tubuh Gusi berdarah Kulit terlihat pucat Kemungkinan ada beberapa tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Apabila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, segera berkonsultasi dengan dokter Anda. Kapan saya harus periksa ke dokter? Apabila Anda memiliki tanda-tanda atau gejala di atas, segera konsultasikan dengan dokter Anda.

Related Articles